Jakarta, NU Online
Anak muda yang tergabung dalam Forum Komunikasi Generasi Muda Nahdlatul Ulama mendiskusikan pergeseran arah politik PKB yang merangkak semakin jauh dari cita-cita awal partai yang didirikan kiai NU di awal reformasi ini. Dalam dialog terbatas di gedung PBNU, Sabtu (30/8) sore, mereka melihat PKB kehilangan daya dinamisnya baik secara internal maupun berhadapan dengan pemerintah.

Koordinator Nasional FK-GMNU Amsar A Dulmanan yang menginisiasi dialog ini menyayangkan kalau sampai PKB sebagai saluran kekuatan politik aswaja dikooptasi oleh kekuatan rezim. “Kejadiannya persis ketika NU melahirkan Orde Baru. Tetapi rezim Orba menerkam NU, induk semangnya sendiri,” kata Amsar.

Sementara Adi Masardi yang hadir sebagai narasumber melihat PKB semakin eksklusif. PKB, menurut Adi, memiliki jarak dengan aspirasi warga NU dan para kiai sebagai basis kekuatan yang membesarkannya.

“Dulu PKB menjadi kuat karena Gus Dur mendistribusikan kekuatan politiknya ke daerah-daerah. Gus Dur melibatkan para kiai NU di daerah,” kata juru bicara Gus Dur, Adi yang menyanyangkan PKB membangun konsolidasi politiknya hanya di level nasional.

Direktur Riset Indo Barometer M Yusuf Kosim berdasarkan catatannya, melihat naiknya angka perolehan suara PKB pada pemilu 2014. PKB berhasil merebut suara dari non-NU sebesar 30 %.

“Tetapi PKB belum memaksimalkan suara warga NU. Karena, warga NU menyerahkan suaranya untuk partai lain. Hanya saja PKB masih tertolong oleh para kiai di daerah yang ingin melihat ideologi aswaja di parlemen,” ujar Yusuf Kosim.

Pengurus PKB semestinya menjadikan Muktamar ini sebagai momentum refleksi. Pengurus teras PKB, kata Amsar, harus membebaskan diri dari pengaruh hegemoni untuk menjaga daya kritisnya.

“Secara institusi PKB harus bunyi memperjuangkan isu civil society untuk mendekatkan mereka dengan masyarakat. Tanpa itu, suara PKB tidak mustahil akan babak belur pada 2019,” tandas Amsar. (Alhafiz K)

Sumber

LEAVE A REPLY